BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kompleksitas problem di era globalisasi memang sulit dikendalikan. Ia menuju dengan kecepatan maha dahsat dan selalu menimbulkan masalah psikologi, moral, mental, mainset dan transformasi cultural dan structural yang canggih dan cepat.
Manusia adalah mahluk yang unik yang tak bias didekati dengan pendekatan mesin atau militer. Ia membutuhkan persuasi, simpati dan visi. Disinilah variasi pendekatan bimbingan dan konseling bias diterapkan secara actual dan konstestual tidak hanya konselor, tapi seluruh elmen mempunyai tanggung jawab yang sama untuk mengantarkan masa depan anak didik sesuai bidang masing-masing.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan bimbingan dan konseling?
2. Bagaiman peran bimbingan dan konseling yang ada disekolah-sekolah?
3. Apa fungsi bimbingan dan konsdeling di sekolah-sekolah?
4. Bagaimana administrasi bimbingan dan konseling?
5. Apa saja tugas-tugas konselor?
C. Tujuan
1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan bimbingan dan konseling
2. Mengetahui apa fungsi dan peran bimbingan dan konseling
3. Agat tertib administrasi bimbingan dan konseling
4. Mengetahui tugas-tugas konseling
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Bimbingan dan konseling
Secara etimologis, kata bimbingan merupakan terjemahan dari kata”guidance”, yang berasal dari kata kerja” to guide”, yang mempunyai arti” menunjukkan”, “membimbing”, “menuntun”, ataupun ” membantu”. Secara umum bimbingan konseling dapat di artikan sebagai suatu bantuan atau tuntunan.
Definisi bimbingan yang pertama dikemukakan dalam year’s Book of Education, 1995, sebagai berikut: Bimbingan adalah suatu proses membantu individu melalui usahanya sendiri untuk menemukan dan mengembangkan kemampuannya agar memperoleh kebahagiaan peribadi dan kemanfaatan sosial.”
Menurut Stoops dan Walquit Bimbingan adalah proses yang terus-menerus dalam membantu perkembangan individu untuk mencapai kemampauannya secara maksimum dalam mengarahkan manfaat yang sebesar- besarnya baik bagi dirinya maupun bagi masyarakat.”
Dari definisi di atas dapat diambil beberapa prinsip penting:
1. Bimbingan merupakan suatu proses yang berkesinambungan
2. Bimbingan merupakan proses membantu individu dan tanpa adanya unsure paksaan.
3. Bahwa bantuan diberikan kepada setiap individu yang memerlukannya di dalam proses perkembangannya.
4. Bahwa bantuan yang di berikan melalui pelayanan bimbingan bertujuan agar individu dapat mengembangkan dirinya secara optimal sesuai dengan potensi yang di milikinya.
5. Yang menjadi sasaran bimbingan adalah agar individu dapat mencapai kemandirian.
6. Untuk mencapai tujuan bimbingan, digunakan pendekatan pribadi atau kelompok dengan memanfaatkan berbagai teknik dan media bimbingan.
7. Layanan bimbingan dilaksanakan dalam suasana asuhan yang normative
8. Diperlukannya personel-pesonel yang memiliki keahlian dan pengalaman khusus dalam bidang bimbingan.
Sedangakan istilah “ konseling” berasal dari bahasa inggris, “to cousel”, yang secara etimologi berarti “to give advice” (Homby, 1958:246) atau memberi sasaran dan nasehat. Istilah konseling merupakan suatu teknik dalam pelayan bibingan diantara beberapa teknik lainnya.
Menurut Rogers (1942) mengemukakan bahwa konseling adalah serangkai hubungan langsung dengan individu untuk membantu dia dalam mengubah sikap dan tingkah lakunya.
Berdasarkan definsisi di atas dapat di mengerti bahwa konseling merupakan salah stu teknik dalam pelayanan bimbingan, dimana proses pemberian bantuan itu berlangsung melalui wawancara dalam satu pertemuan dan tatap muka antara konselor dan klien yang bertujuan agar klien mampu memperoleh kepahaman yang lebih baik dari dirinya memecahkan masalah yang di hadapinya dan mengarahkan dirinya untuk mengembangkan potensi yang di miliki kea rah perkembangan yang optimal.
B. Sejarah Bimbingan dan Konseling
Sejarah bimngan dan konseling dimilai pada permulaan abad ke 20 di Amerika, yang ditandai dengan didirikannya suatu Vocational Bureau (1908) oleh Frank Parsons (The Father of Guidance). Ia menekan kan pentingnya setiap individu tersebut dapat menggunakan intelijensinya dalam memilih pekerjaan yang tepat bagi dirinya.
Adapun bimbingan dan konsling di indonesia diawali dari dimasukannya bimbingan dan konseling (dulu dikenal dengan bimbingan dan penyuluhan) pada setting sekolah.
Pemikiran ini diawali sejak tahun 1960. Hal ini merupakan salah satu hasil konferensi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) yang kemudian menjadi IKIP. Kemudian, disusun juga “pola dasar rencana dan pengembangan bimbingan dan penyuluhan” pada proyek printis sekolah pembangunan (PPSP).
Pada tahun 1978, diselenggarakan program PGSLP dan PGSLA bimbingan dan penyuluhan di iKIP setingkat D2 dan D3 utuk mengisi jabatan bimbingan dan penyuluhan di sekolah. Keberadaan bimbingan dan penyulihan , secara legal-formal, diakui tahun 1989 dengan lahirnya SK Menpan No. 026/Menpan/1989 tentang Angka Kredit bagi Jabatan Guru dalam Lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Didalam Kepmen tesebut , ditetapkan secara resmi adanya pelayanan bimbingan dan penyuluhan di sekolah. Akan tetapi, pelaksanaan di sekolah masih belum jelas, seperti pemikiran awal utuk mendukung misi sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan. Sampai tahun 1993, pelaksanaan bimbingan dan penyuluhan disekolah tidak jelas. Parahnya lagi, orang tua murid memiliki pandangan kurang bersahabat dengan Bimbingan dan Penyuluhan (BP). Mucul anggapan bahwa anaka yang ke BP identik dengan anak yang bermasalah. Hal ini berlangsunghingga lahirnya SK Menpan No. 83/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, yang didalamnya termuat aturan Bimbingan dan Konseling di sekolah . Dengan diperlakukannya kurikulum 94 mulailah adanya ruang gerak bagi layanan bimbingan dan konseling dalam sistem persekolahan di indonesia.
Pada tahun 2003 di perlakukan UU no 20 tahun 2003 tentang pendidikan nasional yang menyebut adanya jabatan konselor dalam pasal 1 ayat 6. Dari Pasal 29 ayat 2 tahun 2003. Diketahu tugas melakukan pembimbingan termasuk tugas guru, tapi tidak bisa ditafsirkan sebagai tugas konselor.
C. Tujuan Bimbingan dan konseling
Menurut Drs. Dewa Ketut Sukardi MBA,MM, 2008 bimbingan konseling memiliki tujuan umum dan tujuan khusus.
1. Tujuan Umum
Tujuan Umum dari layanan bimbingan konseling dalah sesuai dengan tujuan pendidikan yaitu terwujudnya manusia indonesia yang cerdas, beriman, dan bertakwa pada Tuhan yang Maha Esa dan berbudi pekerti yang luhur memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang ,mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab, kemasyarakatan dan kebangsaan .
Dalam rangka menjawab tantangan kehidupan masa depan yaitu adanya relafansi program pendidikan dengan tuntunan dunia kerja, maka secara umum layanan bimbingan dan konseling adalah membantu siswa mengenal bakat dan kemampuannya serta memilih dan menyesuaikan diri dengan kesempatan pendidikan untuk merncanakan karir yang sesuai dengan tuntunan dunia kerja.
2. Tujuan khusus
Secara khusus pelayanan bimbingan dan konseling bertujuan untuk membantu siswa agar mendapat mencapai tujuan-tujuan yang meliputi aspek pribadi, sosal, belajar, dan karir.
Dalam aspek tugas perkembangan pribadi sosial layanan bimbingan dan konseling membantu manusia agar
a. Memiliki kesadaran diri
b. Dapat mengembangkan sikap positif
c. Membuat pilihan secara sehat
d. Mampu menghargai orang lain
e. Memiliki rasa tanggung jawab
f. Dapat menyelesaikan konflik
g. Dapat membuat keputusaan secara efektif
h. Mengembangkan keterampilan pribadi
Dalam aspek tugas perkembangan belajar, layanan bimbingan dan konseling membantu siswa agar :
a. Dapat melaksanakan keterampilan teknik belajar secaraefektif
b. Dapat menetapkan tujuan dan perencanaan pendidikan
c. Memiliki keterampilan dan kemampuan dalam menghadapi evaluasi atau ujian
Dalam aspek tugas perkembangan karir, layanan bimbingan dan konseling membantu siswa agar :
a. Mampu membentuk identitas karir
b. Mampu merencanakan masa depan
c. Dapat membentuk pola-pola karir
d. Mengenal keterampilan, kemapuan, dan minat
D. Fungsi Bimbingan dan Konseling
Ditinjau dari segi sifatnya, layanan bimbingan dan konseling dapat berfungsi sebagai berikut:
1. Pencegahan (preventif)
Pencegahan (preventif) artinya ia merupakan usaha pencegahan terhadap timbulnya masalah
2. Fungsi Pemahaman
Fungsi Pemahaman yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan mengahsilkan pemahaman tentang sesuatu oleh pihak-pihak tertentu, sesuai dengan keperluan pengembangan siswa
3. Fungsi Perbaikan
Fungsi Perbaikan yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkannya atau teratasinya berbagai permasalahan yang dialami siswa
4. Fungsi Pemeliharaan dan Pengembangan
Fungsi Pemeliharaan dan Pengembangan berarti bahwa layanan bimbingan dan konseling yang di berikan dapat membantu para siswa dalam memelihara dan mengembangkan keseluruhan pribadinya secara mantap terarah dan berkelanjutan.
Setiap layanan serta kegiatan bimbingan dan konseling yang di laksanakan haruslah secara langsung mengacu pada salah satu atau pada beberapa fungsi itu, agar hasil yang di capai dapat di identifikasi dan di efaluasi secara lebih lengkap bimbingan dan konseling adalah sebagai berikut:
a. Fungsi pemahaman
b. Fungsi preventif
c. Fungsi pengembangan
d. Fungsi penyembuhan
e. Fungsi penyaluran
f. Fungsi adaptasi
g. Fungsi penyesuaian
h. Fungsi perbaikan
i. Fungsi fasilitator
j. Fungsi pemeliharaan
E. Landasan Bimbingan dan Konseling
Landasan Bimbingan dan Konseling pada hakekatnya merupakan faktor yang harus di perhatikan dan di pertimbangkan, antara lain:
1. Landasan filosofis
Landasan filosofis merupakan landasan yang dapat memberikan arahan dan pemahaman, khususnya bagi konselor, dalam melaksanakan setiap kegiatan bimbingan dan konseling yang lebih bisa di pertimbangkan secara etis logis dan estetis.
2. Landasan psiokogis
Landasan psiokogis merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman bagi konselor tentang prilaku individu yang menjadi kliennya.
3. Landasan sosial budaya
Landasan sosial budaya memberiakn pemahaman tentang dimensi kesosialan dan kebudayaan sebagai faktor yang mempengaruhi prilaku individu.
4. Landasan ilmu pengetahuan dan tekhnologi
5. Landasan pedagogis
6. Landasan religius
7. Lndasan yuridis formal (berkenaan dengan praturan dan perundangan yang berlaku di indonesia).
F. Prinsip-prinsip serta Asas-asas Bimbingan dan Konseling
Menurut Dr. Uman Suherman, M. Pd. (2008) prinsip yang di bandang sebagai pondasi dasar layanan BK adalah sebagai berikut:
1. BK di peruntukan bagi semua konseli (baik yang bermasalah maupun tidak bermasalah)
2. BK sebagai proses individuasi
3. BK menekankan hal yang positif
4. BK merupakan usaha bersama
5. Pengambilan keputusan hal merupakan hal yang esensial
6. BK berlangsung dalam berbagai seting kehidupan
Asas- asas bimbingan dan konseling
1. Asas kerahasiaan
2. Asas kesukarelaan
3. Asas keterbukaan
4. Asas kegiatan
5. Asas kemandirian
6. Asas kekinian
7. Asas kedinamisan
8. Asas keterpaduan
9. Asas keharmonisan
10. Asas keahlian
11. Asas alih tangan kasus
G. Jenis Bimbingan dan Konseling
Jenis-jenis bimbingan dan konseling dibedakan menjadi tiga yaitu:
1. Bimbingan pendidikan (educational guidence)
2. Bimbingan pekerjaan
3. Bimbingan pribadi
H. Macam-Macam Layanan Bimbingan dan Konseling
Bimbingan dan konseling memiliki layanan sebagai berikut:
1. Layanan orientasi, yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik (klient) memahami lingkungan yang baru dimasukinya
2. Layanan informasi, memungkinkan pesrta didik menerima dan memahami informasi
3. Layanan penempatan dan penyaluran, memungkinkan peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran secara tepat
4. Layanan pembelajaran, memungkinkan peserta didik mengembangkan sikap dan belajar yang baik
5. Layanan konseling individual (layanan tatap muka antara individu dengan guru pembimbing)
6. Layanan bimbingan kelompok, yaitu peserta didik (klient)secara bersama-sama melalui dinamika kelompok, memperoleh bahan dari narasumber
7. Layanan konseling kelompok, peserta didik memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan yang dialaminya
I. Tanggung jawab Konselor
Konselor adalah seorang anggota staff sekolah dan bertanggung jawab penuh terhadap fungsi bimbingan serta mempunyai keahlian khusus dalam bidang bimbingan yang tidak dapat dikerjakan oleh guru biasa. Konselor bersama kepala sekolah merencanakan program bimbingan yang sistematis, meliputi program pengembangan pendidikan guru, program konsultasi untuk guru dan orangtua, program konseling untuk murid, program pengembangan dan penelitian sekolah, dan penilaian hasil belajar dan layanan bimbingan lainnya.
Dengan adanya konselor, maka konselor dapat membantu guru dalam mengelompokan murid menurut tingkat kedewasaan serta memberikan konsultasi mengenai pengembangan program pendidikan dan menafsirkan hasil pendidikan.
J. Tugas Konselor
Tugas guru bimbingan dan konseling (konselor) yaitu membantu peserta didik dalam beberapa hal, yaitu :
1. Pengembangan kehidupan pribadi
2. Pengembangan kehidupan sosial
3. Pengembangan kemampuan belajar
4. Pengembangan karier
K. Macam-macam Tehnik Bimbingan dan konseling
Bimbingan dan konseling membutuhkan tekhnik yang tidak mudah di perlukan pembiasaan terhadap macam- macam tekhnik dan di perlukan keberanian dalam mempraktikan macam- macam tekhnik yang ada supaya ada pengalaman dari berbagai tekhnik.
1. Tekhnik umum
Tekhnik umum merupakan tekhnik konseling yang lazim di gunakan dalam tahapan- tahapan konseling dan merupakan tekhnik dasar yang harus di kuasai oleh konselor. Jenis- jenis tekhnik umum:
a. Memimpin (leading), yaitu tekhnik mengarahkan pembicaraan dalam wawancara konseling sehingga tujuan konseling tercaai
b. Fokus, yaitu tekhnik untuk membantu klaen memusatkan perhatian pada pokok pembicaraan.
c. Kofrontasi, yaitu tekhnik menantang klaen untuk melihat adanya inkonsistensi antara perkataan dan bahasa badan atau perbuatan,ide awal dan ide berikutnya, senyum dengan kepedihan, dan sebagainya. Tujuannya adalah (1) mendorong klien mengadakan penelitian secara jujur (2) meningkatkan potensi klien (3) membawa klien pada kesadaran adanya konflik atau kontradiksi dalam dirinya.
d. Menjernihkan (clarifying), yaitu tekhnik menjernihkan ucapan klien yang samar- samar, kurang jelas, dan agak meragukan.
e. Memudahkan (facilitating), yaitu tekhnik untuk membuka komunikasi agar klien dengan mudah berbicara dengan konselor dan menyatakan perasaan, fikiran, serta pengalaman secara bebas.
f. Diam, dilakukan dengan secara attending paling lama 5- 10 detik.
g. Mengambil insiatif, yaitu tekhnik ini di lakukan mana kala klien kurang bersemangat untuk berbicara, sering diam, dan kurang berpasitatif.
h. Memberi nasihat (jika klient memintanya)
i. Pemberian informasi
j. Merencanakan, yaitu tekhnik ini digunakan menjelang akhir sesi konseling membantu agar klien dapat membuat rencana tindakkan, perbuatan yang produktif untuk kemajuan klien.
k. Menyimpulkan
2. Tekhnik khusus
Macam- macam Tekhnik khusus dalam konseling, diantaranya:
a. Latihan asertif, digunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan bahwa tindakannya adalah layak atau benar. Latiahan ini berguna untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung, kesulitan menyatakan tidak, mengungkapkan afeksi dan respon positif lainnya.
b. Desensitisasi sitematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokuskan bantuan untuk menekankan klient dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klient untuk rileks. Esensi teknik ini adalah menghilangkan prilaku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawana dengan prilaku yang dihilangkan.
c. Pengondisisn aversi, teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klient, menganmati respon, pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut
d. Pembentukan perilaku model, teknik ini digunakan untuk membentuk perilaku baru pada klient dan memperkuat prilaku yang sudah terbentuk.
e. Permainan dialog, teknik ini dilakukan dengan cara klient dikondisikan untuk mendialigkan dua kecenderungan yang saling bertentengan (tapdog dan underdog)
f. Latihan saya bertanggung jawab, tekhnik ini merupakan tekhik yang dimaksudkan untuk embantu klient agar mengakui dan menerima perasaan-perasaanya dari pada memproyeksikan perasaanya itu kepada orang lain.
g. Bermain proyeksi, proyeksi yaitu memantulkan kepada orang lain perasaan-persaan dirinya sendiri tidak mau melihat atau menerimanya, mengingkari persaan-perasaan sendiri dengan cara memantulkannya kepada orang lain.
h. Teknik pembalikan , konselor meminta klient untuk memainkan peran yang berkebalikan dengan perasaan-perasaan yang dikeluhkanya
i. Bertahan dengan perasaan, teknik ini digunakan untuk klient yang menunjukan perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan, atau iya sangan ingin menghindarinya.
j. Home work assaignment, yaitu dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih membiasakan diri, dan menginternalisasikan sistem ini tertentu yang menganut pola prilaku yang diharapkan.
k. Adaptive, tekhnik ini digunakan untuk melatih, mendorong, dan membiasakan klient untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan prilaku yang diinginkan.
l. Bermain peran, teknik ini digunakan untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasan negati) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa, sehingga kliant dapat secare bebas mengungkapakanb dirinya sendiri melalui peran tertentu.
m. Imitasi, yaitu meniru secara terus menerus suatu model tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan prilakunya sendiri yang negatif
L. Teknik Implementasi Konseling
Penerapan teori-teori konseling dalam lapangan membutuhkan sebuah pemahaman agar dalam praktek bisa menerapkan teori secara efektif. Dalam konteks ini di perlukan kemampuan mengetahui karakteristik perkembangan anak yang selalu bergerak di namis dan selalu mengalami perubahan cepat, dari usia sekolah dasar sampai menengah atas selain itu, diperlukan menguasai model bimbingan dan konseling.
Menurut Gysbers dan Henderson pengembangan bimbingan dan konseling dilakukan melalui empat tahap:
1. Perencanaan. Hal ini berkenaan dengan target populasi layanan, isi pokok program, organisasi program layanan, penempatan dan pengembangan staf, serta penyediaan sarana dan prasarana.
2. Perancangan. Hal ini berkenan dengan prioritas komponen program, kompetensi yang diharapkan, sasaran layanan, prioritas kompetensi dan tujuan, ketelampilan konselor, serta hubungan dengan program pendidikan.
3. Implementasi. Merupakan pelaksanaan program yang paling potensial, sesuai dengan rancangan proses.
4. Evaluasi. Merupakan evaluasi proses dari setiap langkah untu memperoleh timbal balik yang bermanfaat bagi pengambilan keptusan perbaikan dan pengembangan program, serta menguji keberhasilan atau pencapai tujuan yang telah ditetapkan.
M. Administrasi Bimbingan dan Konseling
Aspek administrasi memegang peranan dalam segala hal, termasuk bimbingan dan konseling. Kegiatan administrasi meliputi beberapa hal, yaitu:
1. Mencatat setiap kasus
2. Mencatat proses yang berlangsung mulai problem, laporan orang tua, masyarakat
3. Mencatat hasilnya
4. Mencatat evaluasi harian, mingguan dan bulanan
Dalam mendokumendasikan data harus dipisahkan antara kasus besar, menengah, dan kasus kecil, sehingga mempermudah pengecekan, rekomendasi, dan evaluasi. Dengan tertib administrasi seorang konselor juga bisa lungsung mendeteksi kasus, rentetan kejadian, dan segala proses yang mengintarinya.
Jika dalam administrasinya kurang tertib hal ini akan mengganggu jalannya konseling, programnya tidak bisa berjalan dengan cepat masalah bisa semakin panjang, dan pendekatan yang dipakai dalam memberikan solusi bisa salah, karena belum diketahui rentetan peristiwa yang menyebabkan adanya problem yang ditangani.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Konseling, sebagai wahana penyuluhan dan bimbingan pada anak didik, menjadi momentum kebangkitan pendidikan dengan tujuh ganda, yakni membakar motivasi dan mencegah devisi. Peran kepala sekolah dalam menggerakkan vitalitas konseling sangat penting. Karena, sebagai top leader, ia mempunyai pengaruh besar dalam mendinamisir potensi konseling menjadi sebuah lembaga yang berwibawa di hadapan siswa, guru, dan elemen pendidikan yang lain.
Sosialisasi pelatiahn konseling secara intens perlu dilakukan agar pemahaman terhadap konseling bersifat komperhensif dan holistic, tidak parsial. Dengan ini timbul kesadaran bahwa tugas BK bukan hanya guru BK saja tetapi semua guru ikut melaksanakannya.
Tehnik konseling perlu dipehatiakn dengan keberanian dengan melakukan eksperimentasi dan obserfasi untuk memestikan efektifitas tekhnik yang diterapkan. Hal ini harus didukung menejemen yang professional dan efektif yang mengedepankan tranparansi integritas, sehinggga kualifikasi konselor harus diprioritaskan. Konselor juga harus membangkitkan semangat belajar secara intensif dan ektensif, mengaplikasikan pendekatan baru, serta menganalisisefektifitas tekhnik yang digunakan.
Tips-tips sukses konseling juga herus diperaktekan dan dikembangkan. Yang dilakukan demi membantu siswa menemukan orietasi hidup, menrencanakan cita-cita, mewujudkannya dengan metode belajar yang sesuai dengan karakter dan kepribadian masing-masing anak didik.
DAFTAR PUSTAKA
Asmani, Jamal Ma’ruf. 2010. Panduan Efektif Bimbingan dan Konseling Di Sekolah. Yogyakarta: DIVA Press
http://ilmupsikologi.wordpress.com/2009/12/31/jenisbimbingandankonseling
http://eko13.wordpress.com/2008/03/22/teknik-khusus-konseling
Sukardi, Dewa Ketut. 2008. Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta
Yusi Riska Yustiana. 2005. “Konsep Dan Aplikasi Bimbingan dan Konseling Di Sekolah Dasar”. Bandung: Pustaka Bani Quraisy
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar